Cahaya di Balik Gelap: Perjuangan Mas Rifa’i Menjemput Takdir
Dunia Mas Rifa’i berubah menjadi gelap total pada tahun 2009. Kecelakaan hebat tiga tahun sebelumnya ternyata menyisakan kerusakan saraf mata yang tak terobati. Sejak saat itu, pemandangan indah dunia berganti dengan kegelapan abadi. Namun, bagi Mas Rifa’i, kebutaan bukanlah alasan untuk menyerah pada nasib, meski hidup seolah tak berhenti menghantamnya.
Antara Bakti dan Bertahan Hidup.
Setiap pagi, di saat orang lain memulai hari dengan semangat, Mas Rifa’i dengan rabaan tangannya yang sabar merawat sang ibu. Ibunya kini terbaring lemah akibat komplikasi penyakit. Dalam kegelapan, ia menjalankan peran sebagai anak yang berbakti—menyuapi, menemani, dan memastikan ibunya merasa nyaman—sebelum ia sendiri harus berjuang mencari sesuap nasi.
Siang hingga malam, Mas Rifa’i duduk bersimpuh di depan gang rumahnya. Hanya jualan Jipang sederhana yang menjadi penyambung nyawanya dan keluarga. Ia tidak lagi berani berkeliling jauh. Luka di tubuhnya menjadi saksi bisu betapa kejamnya jalanan bagi seorang tunanetra.
Kekejaman di Tengah Kegelapan
"Saya sering ditipu, Mas. Mentang-mentang saya tidak bisa melihat dunia lagi," lirihnya dengan suara bergetar.
Kejujuran Mas Rifa’i seringkali dibalas dengan pengkhianatan yang menyayat hati:
Penipuan Uang: Dagangan senilai Rp50.000 seringkali hanya dibayar Rp6.000 atau Rp10.000 oleh pembeli yang tega memanfaatkan kondisinya.
Kekerasan Fisik: Ia pernah dirampok, dipukuli, dan seluruh uang di tas kecil hasil keringatnya dirampas begitu saja.
Lari dari Tanggung Jawab: Tak jarang pembeli membawa kabur dagangannya dengan dalih mengambil uang di motor, namun tak pernah kembali.
Bayangkan, untuk mendapatkan keuntungan bersih Rp20.000 sehari saja, ia harus mempertaruhkan keselamatan dan harga dirinya di pinggir jalan.
Harapan yang Sederhana
Ironisnya, bantuan pemerintah sebesar Rp900.000 per tiga bulan yang sangat ia harapkan, kini sudah setahun tak kunjung datang. Mas Rifa'i kini hanya bergantung pada belas kasih adik dan iparnya, serta sisa-sisa tenaga untuk berjualan.
Ia tidak meminta kemewahan. Mas Rifa’i hanya memiliki dua mimpi sederhana agar bisa bertahan hidup layaknya manusia pada umumnya:
Sebuah Kios Layak: Agar ia tak perlu lagi terancam bahaya di pinggir jalan.
Alat Pendeteksi Nominal Uang: Agar tidak ada lagi tangan-tangan jahat yang menipunya saat bertransaksi.
Meski matanya tak lagi mampu melihat warna-warni dunia, hati Mas Rifa’i tetap penuh rasa syukur. Ia hanya ingin mandiri, merawat ibunya, dan tidak menjadi beban bagi siapapun. Di balik bungkus-bungkus jipang itu, ada doa dan harapan seorang lelaki yang menolak kalah oleh gelapnya dunia.
Mari kita menjadi mata bagi Mas Rifa’i. Karena sedikit kepedulian kita, adalah cahaya besar bagi hidupnya.